DAILYSINTANG.COM, Kalbar — Ketahanan pangan tidak cukup hanya dibicarakan dari ruang rapat. Ia harus dipastikan dari gudang penyimpanan, diperkuat dari lahan pertanian, hingga dijaga di pintu-pintu perbatasan.
Pesan itulah yang tergambar dari rangkaian Kunjungan Kerja Reses Perorangan Anggota DPR RI Masa Sidang V Tahun Sidang 2025–2026 pada tanggal 27 Juli hingga 4 Agustus 2026 yang dilakukan Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adrianus Asia Sidot, di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Adrianus turun langsung menemui mitra kerja dan melihat kondisi di lapangan, mulai dari memastikan ketersediaan stok pangan menghadapi ancaman kemarau panjang, mendorong modernisasi pertanian melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga memperkuat pengawasan komoditas di kawasan perbatasan.
Kunjungan ini menjadi bagian dari komitmennya mengawal sektor pertanian dan pangan agar tidak berhenti pada kebijakan di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Stok Pangan Jadi Perhatian
Salah satu perhatian utama Adrianus adalah kesiapan pangan menghadapi musim kemarau.
Saat meninjau gudang Bulog di Kabupaten Sanggau, ia memastikan ketersediaan stok pangan dalam kondisi aman untuk menghadapi periode kemarau. Langkah serupa dilakukan saat meninjau gudang Bulog di Kabupaten Sintang.
Kunjungan ke dua wilayah tersebut menunjukkan perhatian terhadap satu hal penting: masyarakat harus tetap memiliki akses pangan yang cukup ketika produksi pertanian menghadapi tekanan akibat kondisi cuaca.
Di Sintang, kesiapan Bulog menjadi semakin strategis karena ancaman kemarau panjang diperkirakan dapat memberikan tekanan terhadap produksi pertanian. Karena itu, ketersediaan cadangan pangan menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga stabilitas kebutuhan masyarakat.
Bagi Adrianus, ketahanan pangan harus dibangun melalui kesiapan dari hulu hingga hilir. Produksi petani harus diperkuat, sementara cadangan pangan juga harus tersedia ketika terjadi gangguan produksi.
Bukan Sekadar Stok, Petani Juga Harus Diperkuat
Ketahanan pangan tidak akan kokoh tanpa petani yang kuat.
Karena itu, perhatian Adrianus tidak berhenti pada pengecekan stok Bulog. Dukungan terhadap petani juga diwujudkan melalui penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian kepada sejumlah kelompok tani di Kabupaten Sintang.
Bantuan tersebut antara lain berupa power thresher, hand tractor, hand sprayer, dryer serta berbagai peralatan pendukung lainnya. Bantuan berasal dari Kementerian Pertanian dan dukungan aspirasi Adrianus Asia Sidot.
Modernisasi alat pertanian dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi kerja sekaligus mendorong produktivitas petani.
Dengan mekanisasi, pengolahan lahan dapat dilakukan lebih efektif, waktu kerja dapat ditekan, dan beban operasional petani diharapkan semakin ringan.
“Tujuan akhirnya adalah peningkatan produksi pertanian, terutama tanaman pangan. Muaranya tentu pada meningkatnya kesejahteraan para petani,” demikian semangat yang disampaikan Adrianus dalam penyaluran bantuan tersebut.
Dukungan alsintan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat Brigade Pangan. Pemerintah Kabupaten Sintang menyebut terdapat 12 unit hand tractor dari Kementerian Pertanian yang diperuntukkan bagi tiga Brigade Pangan, masing-masing mendapatkan empat unit.
Artinya, bantuan tidak hanya berbicara mengenai alat, tetapi juga bagaimana sarana tersebut dapat menjadi pengungkit produksi dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh kelompok tani.
Perbatasan: Garda Terdepan Keamanan Pangan
Perhatian terhadap ketahanan pangan kemudian bergerak hingga ke wilayah perbatasan.
Saat berada di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Adrianus meninjau langsung pengawasan karantina dan mengikuti kegiatan pemusnahan barang ilegal yang menjadi media pembawa penyakit karantina pada 3 Agustus 2026.
Menurut Adrianus, perbatasan merupakan salah satu pintu masuk strategis yang harus mendapat pengawasan serius.
Bukan hanya barang ilegal yang menjadi persoalan. Produk hewan, ikan, tumbuhan, buah-buahan, bibit tanaman, serta berbagai komoditas dari luar negeri berpotensi membawa hama dan penyakit yang dapat mengancam pertanian, peternakan, dan perikanan Indonesia apabila tidak melalui pemeriksaan karantina.
Karena itu, ia meminta pengawasan lalu lintas komoditas di wilayah perbatasan diperketat.
Adrianus menilai keberhasilan petugas menggagalkan masuknya komoditas ilegal membuktikan bahwa karantina memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan perlindungan hayati dan keamanan pangan nasional.
Ia juga mendorong penguatan kelembagaan, sumber daya manusia, regulasi, serta dukungan anggaran agar pengawasan di pintu masuk negara dapat berjalan semakin optimal.
Satu Benang Merah: Pangan Harus Dijaga dari Hulu hingga Hilir
Jika dirangkai, berbagai agenda tersebut memperlihatkan satu benang merah yang kuat.
Gudang Bulog menjaga ketersediaan pangan. Petani menjadi ujung tombak produksi. Alsintan membantu meningkatkan produktivitas. Sementara karantina menjaga agar ancaman penyakit dan hama tidak masuk melalui perbatasan.
Keempat aspek tersebut saling berkaitan.
Tanpa petani yang produktif, cadangan pangan sulit diperkuat. Tanpa gudang dan distribusi yang siap, hasil produksi tidak otomatis menjamin ketahanan pangan. Dan tanpa sistem karantina yang kuat, sektor pertanian nasional tetap rentan terhadap ancaman penyakit dari luar negeri.
Karena itu, rangkaian kunjungan Adrianus Asia Sidot menunjukkan pendekatan yang menyeluruh dalam mengawal sektor yang menjadi ruang lingkup Komisi IV DPR RI.
Bukan hanya melihat angka produksi, tetapi juga melihat bagaimana negara memastikan petani memiliki alat, masyarakat memiliki cadangan pangan, dan wilayah perbatasan memiliki sistem perlindungan yang kuat.
Dari Lapangan untuk Kebijakan
Kunjungan kerja reses pada akhirnya bukan sekadar agenda turun ke daerah.
Bagi anggota DPR, kunjungan lapangan menjadi ruang untuk melihat secara langsung persoalan yang dihadapi masyarakat dan mitra kerja, sekaligus menyerap masukan yang dapat dibawa ke tingkat kebijakan nasional.
Dalam konteks Adrianus Asia Sidot, rangkaian kunjungan tersebut memperlihatkan perhatian pada tiga agenda besar: menjaga pangan, memperkuat petani, dan melindungi sumber daya pertanian nasional.
Pesannya sederhana namun strategis: ketahanan pangan tidak lahir dalam sehari.
Ia dibangun dari gudang yang terisi, petani yang produktif, teknologi pertanian yang memadai, kebijakan yang tepat, serta perbatasan yang mampu menjaga negeri dari berbagai ancaman.
Dari Sanggau hingga Sintang, dari gudang Bulog hingga lahan petani, dan dari sentra produksi hingga PLBN Entikong, pengawalan terhadap pangan dilakukan dari berbagai lini.
Sebab pada akhirnya, ketahanan pangan bukan sekadar soal berapa banyak beras yang tersedia hari ini, tetapi tentang seberapa siap Indonesia menghadapi tantangan pangan esok hari.