Kalbar

Duta Museum Kalbar Suarakan Krisis Lingkungan: Menjaga Alam, Melindungi Warisan Sejarah

Raymundus Marko Suhenda · · Diterbitkan 07:29 · 3 menit membaca
DUTA MUSEUM KALBAR TEGUH MILNAWAN
Ukuran Teks:

DAILYSINTANG.COM, PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT — Krisis lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Kalimantan Barat menjadi perhatian serius bagi generasi muda, tidak hanya karena dampaknya terhadap kesehatan dan kehidupan masyarakat, tetapi juga karena ancaman terhadap keberadaan situs, bangunan, benda, dan peninggalan sejarah yang menjadi bagian penting dari identitas budaya daerah.

Hal tersebut disampaikan Richardus Teguh Milnawan, Pendamping IV Duta Museum Kalimantan Barat 2025, sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam dan warisan sejarah Kalimantan Barat.

Menurut Richardus, lingkungan dan sejarah merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Lingkungan yang rusak dapat mengancam keberlangsungan masyarakat sekaligus meningkatkan risiko terhadap berbagai peninggalan sejarah dan budaya yang berada di kawasan rentan terhadap bencana, termasuk kebakaran.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan alam hari ini, tetapi juga tentang memastikan generasi mendatang masih dapat melihat, mempelajari, dan memahami warisan sejarah yang kita miliki,” ujar Richardus.

Ia menilai, ancaman kebakaran lingkungan perlu menjadi perhatian bersama, khususnya ketika kondisi cuaca kering dan potensi kebakaran meningkat. Asap dan kebakaran tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat serta ekosistem, tetapi juga berpotensi memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kawasan yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan.

Sebagai Pendamping IV Duta Museum Kalimantan Barat 2025, Richardus mendorong agar upaya pelestarian museum dan peninggalan sejarah tidak hanya dipahami sebagai tanggung jawab pemerintah atau pengelola museum. Masyarakat, komunitas, pelajar, mahasiswa, serta generasi muda juga memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan warisan tersebut.

Menurutnya, museum tidak sekadar tempat menyimpan benda-benda masa lalu. Museum merupakan ruang untuk mengenali perjalanan sejarah, memahami identitas budaya, serta membangun kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.

“Ketika kita kehilangan lingkungan, kita tidak hanya kehilangan pohon, udara bersih, dan keanekaragaman hayati. Jika tidak dijaga dengan baik, kita juga berisiko kehilangan ruang-ruang sejarah dan budaya yang menjadi saksi perjalanan masyarakat,” ungkapnya.

Richardus juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam mencegah kebakaran lingkungan, tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, menjaga kebersihan kawasan, serta ikut melaporkan apabila menemukan potensi atau kejadian kebakaran yang dapat membahayakan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Di sisi lain, ia mendorong adanya perhatian lebih terhadap peninggalan sejarah yang berada di kawasan rawan bencana. Upaya mitigasi dan perlindungan terhadap museum, situs sejarah, rumah adat, benda cagar budaya, maupun kawasan bernilai sejarah dinilai penting agar warisan tersebut tetap dapat dilestarikan dalam kondisi apa pun.

Baginya, pelestarian lingkungan dan pelestarian sejarah harus berjalan beriringan.

“Alam adalah bagian dari sejarah kita, sementara peninggalan sejarah adalah bukti perjalanan kita. Karena itu, keduanya harus kita jaga bersama,” tegas Richardus.

Ia berharap suara generasi muda mengenai persoalan lingkungan dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk membangun Kalimantan Barat yang lebih peduli terhadap kelestarian alam, sejarah, dan kebudayaan.

Melalui momentum tersebut, Richardus mengajak seluruh elemen masyarakat Kalimantan Barat untuk menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menjaga lingkungan hari ini berarti menjaga kehidupan. Menjaga peninggalan sejarah berarti menjaga identitas untuk masa depan.

Tinggalkan komentar