Pekan Gawai Dayak dan Naik Dango Harus Kembali pada Jati Diri Budaya Dayak

DAILYSINTANG.COM, Pontianak, 08 Juni 2026 Agusandi, S.E., M.E. Tokoh Pemuda Dayak Kalimantan Barat dan Akademisi Pekan Gawai Dayak maupun Naik Dango sudah seharusnya dievaluasi agar kembali pada tujuan utamanya sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat Dayak atas hasil panen padi. Nilai-nilai adat dan filosofi leluhur yang menjadi dasar pelaksanaan Naik Dango perlu ditempatkan sebagai agenda utama, bukan sekadar pelengkap dalam rangkaian acara seremonial. Tradisi makan bersama, ritual adat, dan penghormatan terhadap hasil panen merupakan identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda Dayak.

Selain itu, kegiatan yang ditampilkan hendaknya lebih menonjolkan tradisi dan permainan rakyat Dayak yang sarat akan nilai pendidikan, kebersamaan, dan kearifan lokal. Pendidikan nonformal panyingahat yang kini semakin sulit ditemukan, khususnya di Kecamatan Sompak Kabupaten Landak, hingga seni Jonggan tradisional perlu mendapatkan ruang yang lebih besar. Saat ini, seni Jonggan menghadapi tantangan serius karena mulai bergeser menjadi hiburan berbasis musik karaoke yang mengurangi nilai budaya aslinya.

Di sisi lain, perayaan budaya juga harus menjadi momentum untuk membahas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat Dayak, seperti kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, dan keterbatasan infrastruktur di berbagai wilayah pedalaman. Oleh karena itu, tokoh-tokoh Dayak yang berada di tingkat nasional, anggota DPR RI, akademisi, maupun pejabat pemerintah perlu diundang dalam forum diskusi, kuliah umum, atau pertemuan strategis yang menghasilkan rekomendasi konkret bagi pembangunan sumber daya manusia dan infrastruktur masyarakat Dayak.

Perhatian juga perlu diberikan terhadap keberlangsungan ekonomi budaya Dayak. Maraknya produksi pakaian bermotif Dayak dengan harga murah oleh pelaku usaha besar berpotensi mengancam keberadaan tenun Dayak yang dibuat secara tradisional. Pekan Gawai Dayak dan Naik Dango harus menjadi wadah promosi bagi produk-produk asli masyarakat Dayak, termasuk tenun, tikar, nyiru, tingkalang, jangkok, jala, bide, serta berbagai kerajinan anyaman rotan dan bambu yang merupakan warisan budaya bernilai tinggi.

Ke depan, Pekan Gawai Dayak dan Naik Dango tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Generasi muda Dayak perlu didorong untuk menjadi pelaku usaha, pedagang, dan pengusaha yang mampu bersaing di era modern tanpa meninggalkan identitas budayanya. Dengan demikian, perayaan budaya tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Dayak di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *