DAILYSINTANG.COM, SINTANG – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di wilayah Kalimantan Barat, khususnya kawasan Kalbar II, memicu lonjakan harga yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini mendapat perhatian dari tokoh muda Sintang, Noven Honarius, yang mendesak pemerintah agar lebih serius menangani persoalan tersebut demi melindungi kepentingan masyarakat.
Kelangkaan BBM disebut terjadi akibat musim kemarau yang berdampak pada terganggunya distribusi. Situasi ini mulai terasa sejak 12 Februari lalu, ketika pasokan di sejumlah wilayah dilaporkan tersendat. Akibatnya, harga BBM, terutama jenis Pertalite, melonjak jauh di atas harga normal.
Di kawasan perkotaan, harga BBM sempat menyentuh kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per liter. Sementara itu, di wilayah kecamatan dan daerah pelosok, harga bahkan dilaporkan mencapai Rp40 ribu per liter. Lonjakan ini dinilai memberatkan masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan warga yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada ketersediaan BBM.
Noven Honarius menyampaikan keprihatinannya atas situasi tersebut. Ia menilai kelangkaan yang terjadi menjadi cerminan belum optimalnya tata kelola distribusi energi, terutama dalam mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap jalur distribusi.
Menurutnya, pemerintah seharusnya memiliki langkah antisipatif agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap kali terjadi perubahan kondisi alam. Ia menilai perusahaan terkait bersama pemerintah perlu memperkuat sistem distribusi agar pasokan tetap terjaga meskipun menghadapi kendala geografis.
“Ini langkanya bukan main sehingga terjadi kenaikan harga yang tidak masuk akal seperti berapa waktu lalu haga mencapai 25-30 ribu/ liter BBM jenis pertalite kemudian di pelosok sudah mencapai 40 ribu/liter. Ini pembunuhan mental bagi perekonomian masyarakat,” ungkap Noven.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa beratnya dampak yang dirasakan masyarakat. Kenaikan harga BBM tidak hanya memengaruhi biaya transportasi, tetapi juga berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok, distribusi barang, serta aktivitas ekonomi lainnya.
Di wilayah seperti Serawai, kondisi harga disebut masih berada di kisaran Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per liter. Meski lebih rendah dibandingkan puncak lonjakan sebelumnya, angka tersebut tetap jauh di atas harga eceran biasanya.
Noven menilai selama kelangkaan belum teratasi secara menyeluruh, harga BBM akan sulit kembali stabil. Tingginya permintaan yang tidak sebanding dengan ketersediaan barang di lapangan menjadi faktor utama yang memicu fluktuasi harga.
“Harga BBM akan sulit untuk stabil karena kelangkaan contohnya di serawai harga untuk saat ini diharga 23-25 ribu/liter. Ini semua berdampak pada aktivitas masyarakat,” ungkap Noven.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, pemerintah harus memfokuskan perhatian pada kebutuhan dasar rakyat, termasuk memastikan distribusi energi berjalan lancar hingga ke daerah pelosok.
Kelangkaan BBM di Kalbar II sendiri diduga berkaitan erat dengan dampak kemarau yang memengaruhi jalur distribusi, terutama wilayah yang masih mengandalkan transportasi sungai maupun akses darat terbatas. Ketika debit air menurun atau jalur distribusi terganggu, pasokan ke sejumlah kecamatan menjadi terhambat.






