DAILYSINTANG.COM, Sejumlah pemuda dari Kalimantan Barat yang tergabung dalam komunitas Pemuda Dayak Kalbar menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Surat tersebut berisi berbagai kegelisahan masyarakat Dayak terkait kondisi sosial, ekonomi, serta lingkungan di Kalimantan yang dinilai masih menghadapi banyak persoalan mendasar.
Surat terbuka itu dipublikasikan melalui akun Instagram komunitas @pemuda_dayak_kalbar dan menarik perhatian publik di media sosial. Melalui surat tersebut, para pemuda Dayak berharap pemerintah pusat dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap realitas yang dialami masyarakat lokal di wilayah yang dikenal kaya akan sumber daya alam tersebut.
Ketua Umum Pemuda Dayak Kalbar, Srilinus Lino, menjelaskan bahwa surat terbuka tersebut merupakan hasil dari diskusi dan perumusan bersama sejumlah pemuda Dayak. Ia mengatakan gagasan tersebut muncul dari berbagai kegelisahan yang dirasakan masyarakat di daerah.
Menurut Lino, penyusunan surat terbuka ini tidak hanya melibatkan pengurus organisasi Pemuda Dayak Kalbar, tetapi juga sejumlah pemuda Dayak lain yang tidak terafiliasi secara formal dengan organisasi tersebut. Mereka ikut memberikan pandangan dan gagasan dalam merumuskan isi surat.
“Dalam proses perumusannya kami melibatkan anggota organisasi, baik pengurus inti maupun anggota lainnya. Selain itu beberapa pemuda Dayak yang tidak tergabung secara formal dalam organisasi tetapi memiliki kapasitas pemikiran yang baik juga turut memberikan kontribusi,” ujar Lino melalui pesan langsung kepada wartawan, Senin (9/3/2026).
Berangkat dari Kegelisahan Kolektif
Lino menjelaskan bahwa gagasan untuk menyusun surat terbuka sebenarnya sudah muncul sejak beberapa waktu lalu. Ide tersebut berkembang seiring meningkatnya eksploitasi sumber daya alam di wilayah Kalimantan yang menurut mereka belum memberikan dampak kesejahteraan yang seimbang bagi masyarakat setempat.
Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah Kalimantan memang menjadi salah satu pusat pengembangan berbagai sektor industri berbasis sumber daya alam. Perkebunan kelapa sawit dan aktivitas pertambangan berkembang cukup pesat di sejumlah daerah.
Namun di sisi lain, masyarakat lokal kerap menghadapi berbagai persoalan yang muncul akibat ekspansi tersebut. Mulai dari konflik lahan, perubahan lingkungan, hingga dampak sosial yang dirasakan oleh komunitas adat.
“Gagasan ini berangkat dari berbagai persoalan yang terjadi di Kalimantan, terutama sejak wilayah ini menjadi kawasan pengembangan perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran serta eksploitasi sumber daya alam yang lebih banyak menguntungkan kepentingan tertentu,” kata Lino.
Menurutnya, situasi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan generasi muda Dayak tentang sejauh mana kekayaan alam di tanah mereka benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.
Soroti Konflik Sumber Daya Alam
Dalam surat terbuka tersebut, Pemuda Dayak Kalbar juga menyoroti berbagai konflik yang muncul akibat pemanfaatan sumber daya alam di Kalimantan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah ekspansi perkebunan kelapa sawit serta aktivitas pertambangan yang dinilai sering bersinggungan dengan wilayah hidup masyarakat adat.
Konflik lahan antara perusahaan dan masyarakat lokal masih kerap terjadi di beberapa wilayah. Selain itu, aktivitas industri juga disebut berdampak pada kondisi lingkungan, termasuk kerusakan hutan serta pencemaran sungai.
Bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada hutan dan sungai sebagai sumber kehidupan, perubahan tersebut tentu membawa konsekuensi besar terhadap kehidupan sehari-hari.
Pemuda Dayak menilai bahwa pembangunan ekonomi seharusnya tetap memperhatikan keseimbangan antara kepentingan industri, perlindungan lingkungan, serta hak-hak masyarakat adat yang telah lama tinggal dan hidup di wilayah tersebut.
Hilangnya Simbol Budaya Dayak
Selain menyoroti persoalan ekonomi dan lingkungan, surat terbuka itu juga menyinggung isu yang bersifat simbolik terkait identitas budaya Dayak. Salah satu yang menjadi perhatian adalah hilangnya tulisan falsafah Dayak yang sebelumnya sempat terpasang di gerbang kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Tulisan yang dimaksud berbunyi *“Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.”* Bagi masyarakat Dayak, kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan falsafah hidup yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Falsafah tersebut mengandung nilai-nilai moral yang mengajarkan manusia untuk hidup dengan keadilan terhadap sesama, menjaga hubungan dengan Tuhan, serta bertanggung jawab terhadap kehidupan.
Lino mengatakan hilangnya tulisan tersebut memunculkan perasaan kehilangan di kalangan masyarakat Dayak. Mereka merasa bahwa simbol penting dari identitas budaya mereka seakan tidak lagi mendapatkan ruang yang layak dalam pembangunan nasional.
“Hilangnya simbol tersebut menimbulkan perasaan bahwa keberadaan masyarakat Dayak sebagai bagian sah dari bangsa ini perlahan tidak lagi mendapat pengakuan yang semestinya,” ujarnya.
Ketimpangan Pembangunan di Kalimantan
Dalam isi surat terbuka, Pemuda Dayak Kalbar juga menyoroti ketimpangan pembangunan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan, terutama di daerah pedalaman.
Meski Kalimantan dikenal sebagai salah satu wilayah yang kaya sumber daya alam, kenyataannya masih banyak daerah yang menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar. Jalan yang rusak, akses transportasi yang sulit, serta terbatasnya fasilitas kesehatan menjadi masalah yang masih dirasakan masyarakat di beberapa wilayah.
Selain itu, akses pendidikan juga dinilai belum merata. Banyak daerah pedalaman yang masih kekurangan tenaga pengajar maupun fasilitas pendidikan yang memadai.
Kondisi tersebut dinilai menjadi ironi, mengingat Kalimantan merupakan salah satu wilayah yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional melalui sektor sumber daya alam.
Menurut para pemuda Dayak, pembangunan yang dilakukan seharusnya tidak hanya berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.
Harapan kepada Pemerintah
Melalui surat terbuka tersebut, Pemuda Dayak Kalbar berharap pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo Subianto, dapat melihat secara langsung kondisi masyarakat di Kalimantan.
Mereka berharap berbagai persoalan yang disampaikan dapat menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan pembangunan nasional ke depan.
Bagi para pemuda Dayak, keberadaan sumber daya alam yang melimpah seharusnya dapat menjadi kekuatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, bukan justru memperlebar kesenjangan.
“Pesan utama kami adalah agar Presiden dapat melihat secara langsung kondisi dan jeritan masyarakat di Kalimantan,” kata Lino.
Ia menambahkan bahwa suara yang disampaikan melalui surat terbuka tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan ajakan untuk memastikan bahwa pembangunan berjalan secara adil dan berkelanjutan.
Dorongan Peran Generasi Muda
Langkah Pemuda Dayak Kalbar menyampaikan surat terbuka juga menjadi salah satu bentuk partisipasi generasi muda dalam menyuarakan aspirasi masyarakat.
Di tengah berbagai dinamika pembangunan di Kalimantan, generasi muda Dayak dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, pelestarian lingkungan, serta perlindungan identitas budaya.
Melalui dialog dan penyampaian aspirasi secara terbuka, para pemuda berharap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dapat didengar oleh pemerintah dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan.
Surat terbuka tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan nasional tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang keadilan sosial serta penghormatan terhadap keberagaman budaya yang menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia.
sumber : tribunnews.com




