Pemkot Pontianak Tegaskan Dukungan Gerakan Indonesia ASRI

dailysintang.com/, PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak menegaskan komitmennya dalam mendukung arahan Presiden Republik Indonesia terkait penataan lingkungan perkotaan melalui Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI).

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menekankan bahwa semangat Indonesia ASRI bukanlah hal baru bagi Pontianak, karena berbagai program penataan kota dan pelestarian lingkungan telah dijalankan jauh sebelum gerakan tersebut digaungkan secara nasional.

Edi menyampaikan, arahan Presiden mengenai pentingnya menjaga estetika kota, termasuk penertiban spanduk, papan nama, baliho, dan reklame yang tidak tertata, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Pontianak selama ini.

Menurutnya, wajah kota yang rapi dan hijau menjadi faktor penting dalam menciptakan kenyamanan sekaligus meningkatkan daya tarik daerah.

“ Kalau kota tidak cantik, tidak bersih, orang tentu tidak tertarik untuk datang. Saya sangat setuju dengan arahan Bapak Presiden, dan itu sudah kami lakukan sejak lama di Pontianak,” ujar Edi.

Edi menjelaskan, penataan kota tidak hanya soal keindahan visual, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Kota yang tertata dengan baik akan mendorong orang untuk berkunjung, berinvestasi, dan beraktivitas secara lebih nyaman. Menurutnya, keberadaan reklame dan spanduk yang dipasang sembarangan dapat merusak tata kota dan menimbulkan kesan kumuh.

Karena itu, Pemkot Pontianak secara bertahap melakukan pengawasan dan penertiban agar seluruh elemen kota tetap selaras dengan konsep penataan ruang yang telah ditetapkan.

“ Kita ingin Pontianak terlihat rapi, hijau, dan nyaman. Penataan ini bukan untuk melarang, tetapi untuk mengatur agar semuanya tertib dan tidak merusak estetika kota,” jelasnya.

Salah satu bentuk nyata dukungan Pontianak terhadap semangat Indonesia ASRI adalah program penghijauan yang dilakukan secara rutin.

Edi menyebut, penanaman pohon hampir dilakukan setiap pekan di berbagai titik kota, termasuk kawasan yang sebelumnya minim ruang hijau.

Hasil dari program tersebut kini mulai terlihat. Sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman yang dahulu gersang, kini tampak lebih teduh dan asri.

Selain meningkatkan keindahan kota, keberadaan pohon juga berfungsi memperbaiki kualitas udara dan mengurangi dampak panas perkotaan.

“ Penanaman pohon ini kita lakukan secara konsisten. Bukan hanya menanam, tapi juga memastikan pohonnya dirawat agar benar-benar memberi manfaat,” katanya.

Selain penghijauan, Pemkot Pontianak juga mengandalkan budaya gotong royong sebagai pilar utama dalam menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan.

Kegiatan gotong royong dilakukan secara rutin setiap bulan dan melibatkan aparatur pemerintah bersama masyarakat di seluruh wilayah kota.

Edi menegaskan, gotong royong bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa menjaga kota adalah tanggung jawab semua pihak.

“ Gotong royong ini sudah menjadi budaya. Kita lakukan setiap bulan, menyebar di seluruh kecamatan. Ini bukan kegiatan formalitas, tapi wujud kepedulian kita terhadap kota,” tegasnya.

Ke depan, Pemkot Pontianak berencana memperluas keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam gerakan menjaga lingkungan.

Tidak hanya aparatur sipil negara dan warga, tetapi juga sekolah, institusi pendidikan, serta unsur TNI dan Polri akan dilibatkan secara aktif.

Menurut Edi, pelibatan lintas sektor penting untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini dan memastikan gerakan ini berjalan secara berkelanjutan.

“ Kalau semua terlibat, dari anak sekolah sampai aparat, maka kesadaran menjaga lingkungan akan tumbuh secara kolektif. Ini yang kita harapkan,” ujarnya.

Dalam upaya mendukung kota yang resik dan sehat, Edi juga menekankan pentingnya inovasi pengelolaan sampah, khususnya di tingkat instansi dan sekolah.

Ia mendorong agar setiap kantor pemerintahan dan satuan pendidikan memiliki sistem pengolahan sampah organik mandiri. Salah satu metode yang didorong adalah pengolahan sampah organik melalui lubang resapan atau tempayan khusus.

Sampah daun dan sisa organik dimasukkan ke dalam wadah tersebut, kemudian diberi bakteri pengurai hingga berubah menjadi kompos.

“ Nanti kita tanam gorong-gorong atau tempayan, sampah organik dimasukkan ke situ, disemprot bakteri pengurai, dan jadilah pupuk. Sampah selesai di tempat. Yang dibuang ke TPA hanya plastik dan kaleng,” paparnya.

Menurut Edi, langkah ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan ekologis melalui pemanfaatan pupuk kompos.

Dengan berbagai langkah tersebut, Edi berharap Pontianak dapat terus mempertahankan predikat sebagai kota yang bersih, nyaman, dan berdaya tarik tinggi.

Ia juga ingin menunjukkan bahwa dukungan terhadap Gerakan Indonesia ASRI bukan sekadar slogan, melainkan telah diwujudkan melalui kebijakan dan aksi nyata di lapangan.

“ Kita ingin Pontianak menjadi contoh bahwa menjaga lingkungan itu bisa dilakukan secara konsisten dan melibatkan semua pihak,” pungkasnya.