Kasus Bom Molotov di SMPN 3 Kubu Raya Jadi Alarm Dunia Pendidikan

dailysintang.com/, KUBU RAYA – Peristiwa pelemparan bom molotov yang dilakukan oleh seorang siswa di SMP Negeri 3 Kubu Raya, Selasa (3/2/2026), menuai perhatian serius dari berbagai kalangan.

Insiden tersebut dinilai bukan sekadar tindak kriminal, melainkan peringatan keras bagi dunia pendidikan, khususnya terkait pembinaan karakter, kesehatan mental, dan sistem pengawasan peserta didik.

Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kalimantan Barat, Muhamad Sani menyampaikan keprihatinannya atas kejadian yang melibatkan pelajar di lingkungan sekolah.

Menurutnya, sekolah semestinya menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang anak, bukan justru menjadi lokasi munculnya tindakan berbahaya.

“ Ini sangat memprihatinkan. Ketika seorang pelajar sudah melakukan tindakan ekstrem seperti pelemparan bom molotov, maka ini bukan peristiwa biasa. Ini alarm keras yang harus segera direspons secara serius oleh semua pihak,” ujar Sani.

Sani menegaskan, penanganan kasus tersebut tidak bisa berhenti pada proses hukum semata. Menurutnya, pendekatan yang komprehensif harus melibatkan keluarga, sekolah, pemerintah daerah, serta aparat penegak hukum.

“ Penanganannya tidak cukup hanya dengan proses hukum. Pembinaan mental, pembentukan karakter, serta pengawasan terhadap anak-anak harus diperkuat. Dunia pendidikan wajib menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” tegasnya.

Ia menilai bahwa kasus ini mencerminkan adanya celah dalam sistem pengawasan dan pendampingan terhadap peserta didik, terutama pada usia remaja awal yang masih berada dalam fase pencarian jati diri.

Dari sudut pandang psikologi pendidikan, Muhamad Sani yang juga dikenal sebagai pemerhati isu sosial menilai bahwa perilaku agresif ekstrem pada pelajar umumnya dipicu oleh akumulasi masalah psikososial yang tidak tertangani sejak dini.

“ Pada usia remaja awal, emosi anak masih sangat labil. Tekanan di rumah, lingkungan pergaulan, maupun dinamika di sekolah, jika tidak tersalurkan dengan baik, bisa berubah menjadi perilaku agresif sebagai bentuk pelampiasan,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya peran sekolah dalam mendeteksi perubahan perilaku siswa sejak awal, sebelum berkembang menjadi tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Menurut Sani, sekolah perlu memperkuat fungsi guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta membangun sistem deteksi dini yang efektif terhadap gejala stres, tekanan emosional, dan perubahan perilaku siswa.

“ Pendekatan represif saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pendampingan psikologis, komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua, serta ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan masalah yang mereka hadapi,” tambahnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam memantau perkembangan mental dan emosional anak, terutama di tengah tantangan sosial dan digital yang semakin kompleks.

FKDM Kalbar menilai pendidikan karakter dan literasi emosi harus menjadi bagian yang kuat dalam kurikulum sekolah. Tujuannya agar siswa mampu mengelola emosi, menyelesaikan konflik secara sehat, serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan.

“ Anak-anak perlu dibekali kemampuan mengelola emosi, menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, dan memahami dampak dari perilaku mereka. Ini tidak kalah penting dari capaian akademik,” ujarnya.

Sementara itu, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terkait motif dan latar belakang pelaku dengan tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Sebelumnya, peristiwa pelemparan bom molotov tersebut mengakibatkan satu orang mengalami luka dan telah mendapatkan penanganan medis. Korban dilaporkan dalam kondisi stabil dan sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

FKDM Kalbar berharap kejadian ini menjadi momentum evaluasi bersama, agar dunia pendidikan di Kalimantan Barat benar-benar menjadi lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang generasi muda, baik secara akademik maupun mental.