Nasional

Adrianus Asia Sidot Sinergikan 4 Pilar Kebangsaan di Tengah Karhutla dan Kabut Asap

Tim Redaksi · · Diterbitkan 06:40 · 5 menit membaca
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adrianus Asia Sidot Foto: DOK. ISTIMEWA
Ukuran Teks:

DAILYSINTANG.COM, LANDAK — Di tengah kepungan kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, masyarakat tidak hanya membutuhkan penanganan terhadap dampak bencana, tetapi juga kepedulian, solidaritas, dan kehadiran bersama.

Semangat itulah yang dibawa Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adrianus Asia Sidot, saat menggelar Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Aula Desa Pahauman, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Selasa (15/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Camat Sengah Temila, Kepala Desa Pahauman, serta masyarakat dari berbagai unsur. Di tengah kondisi lingkungan yang sedang tidak bersahabat, sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kali ini tidak sekadar berbicara mengenai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Lebih dari itu, nilai-nilai kebangsaan dikaitkan langsung dengan kehidupan masyarakat dan persoalan yang sedang mereka hadapi.

Adrianus menilai, karhutla dan kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyentuh kehidupan sosial dan kemanusiaan masyarakat. Aktivitas warga dapat terganggu, kesehatan dan kenyamanan ikut terdampak, sementara kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga dan lingkungan terus membayangi.

Karena itu, menurutnya, situasi tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali makna persatuan dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

“Di tengah kondisi karhutla dan kabut asap seperti sekarang, masyarakat tentu merasakan beban yang tidak ringan. Karena itu, kepedulian dan semangat gotong royong jangan sampai ikut padam. Justru dalam keadaan seperti inilah kita harus saling menguatkan dan hadir untuk sesama,” tutur Adrianus.

Ia mengatakan, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai nilai yang hanya dihafalkan atau disampaikan dalam forum-forum resmi. Nilai tersebut harus hadir dalam tindakan nyata, terlebih ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit.

Adrianus kemudian mengaitkannya dengan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia. Baginya, persatuan memiliki makna yang sangat nyata ketika masyarakat mampu mengesampingkan perbedaan dan bersama-sama menghadapi persoalan yang menyangkut kepentingan bersama.

“Justru dalam situasi seperti inilah manifestasi sila ketiga harus kita hadirkan secara nyata. Persatuan bukan hanya kita ucapkan, tetapi kita buktikan dengan saling membantu, saling menjaga, dan saling menguatkan ketika ada saudara-saudara kita yang sedang menghadapi kesulitan,” ujarnya.

Karhutla Bukan Persoalan Satu Pihak
Adrianus menegaskan, persoalan karhutla tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Pencegahan dan penanganannya membutuhkan kesadaran serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam penanganan dan pengawasan, sementara masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan mencegah aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran.

Tokoh masyarakat, pemuda, aparat desa, dunia pendidikan, serta berbagai kelompok sosial juga dinilai memiliki peran untuk membangun kesadaran bersama.
“Karhutla bukan persoalan satu pihak. Karena itu, kita tidak boleh saling menyalahkan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bersama-sama mencari jalan keluar, saling mengingatkan, saling membantu, dan menjaga agar persoalan ini tidak terus berulang,” kata Adrianus.

Menurutnya, menjaga lingkungan pada hakikatnya merupakan bagian dari menjaga kehidupan itu sendiri.
Kalimantan Barat memiliki kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Hutan, lahan, sungai, dan berbagai ekosistem di dalamnya bukan hanya aset daerah, tetapi juga warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Alam yang kita jaga hari ini adalah kehidupan yang akan diwariskan kepada anak dan cucu kita nanti,” tegasnya.

23,7 Ton Beras untuk 790 Penerima
Di tengah pesan tentang persatuan dan kepedulian tersebut, kegiatan di Desa Pahauman juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan pangan berupa beras kepada masyarakat.
Sebanyak 23,7 ton beras disalurkan kepada 790 penerima.

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, terutama di tengah situasi yang tidak mudah akibat karhutla dan kabut asap.
Adrianus menyadari bahwa bantuan tersebut bukanlah jawaban atas seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat. Namun, ia berharap bantuan yang diberikan dapat sedikit mengurangi beban warga.

“Saya memahami bahwa masyarakat sedang menghadapi kondisi yang tidak mudah. Bantuan ini mungkin tidak besar dan tentu tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan yang ada. Tetapi kami berharap, bantuan ini setidaknya dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan sedikit meringankan beban masyarakat,” ungkapnya.

Ia menilai, kepedulian terkadang tidak harus hadir dalam bentuk sesuatu yang besar. Hal yang paling penting adalah memastikan bahwa masyarakat yang sedang membutuhkan tidak merasa berjalan sendirian menghadapi kesulitan.

“Dalam keadaan seperti ini, sekecil apa pun bantuan yang diberikan, mudah-mudahan bisa berarti ketika sampai kepada masyarakat yang membutuhkan. Paling tidak, ada satu beban yang bisa kita ringankan dari sekian banyak beban yang sedang mereka pikul,” lanjut Adrianus.

Kebangsaan Harus Hadir dalam Kehidupan Masyarakat
Bagi Adrianus, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa semangat kebangsaan seharusnya tidak berhenti di ruang pertemuan.

Pancasila, menurutnya, harus tercermin dalam cara masyarakat memperlakukan sesama, menjaga lingkungan, membantu mereka yang mengalami kesulitan, dan membangun kehidupan sosial yang saling menghargai.

“Nilai-nilai kebangsaan akan memiliki arti ketika kita mampu menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada saudara kita yang membutuhkan, maka persatuan, kepedulian, dan gotong royong harus hadir dalam bentuk tindakan nyata,” katanya.

Di tengah karhutla dan kabut asap yang masih menjadi tantangan bagi masyarakat Kalimantan Barat, kegiatan di Desa Pahauman tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan dua hal penting: penguatan nilai-nilai kebangsaan dan kepedulian terhadap persoalan nyata masyarakat.
Pesan yang dibawa Adrianus menempatkan persatuan bukan sekadar slogan, melainkan sebagai kekuatan sosial yang dapat membuat masyarakat saling menopang ketika menghadapi keadaan sulit.

Ia pun mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kebersamaan, meskipun memiliki latar belakang, pekerjaan, maupun kepentingan yang berbeda.
“Kita boleh berbeda latar belakang, pekerjaan, maupun kepentingan. Tetapi ketika menghadapi persoalan bersama, kita harus mampu berdiri sebagai satu kesatuan. Jangan biarkan perbedaan membuat kita saling menjauh. Dalam keadaan sulit seperti ini, justru kita harus semakin dekat, saling menjaga, dan saling menguatkan,” pungkas Adrianus.

Tinggalkan komentar