DAILYSINTANG.COM, TA Project Sintang kembali menghadirkan karya terbaru. Rumah produksi musik lokal tersebut merilis single berjudul “Lelayuk Bunga”, lagu bertema cinta berbahasa Dayak Linoh ciptaan Yandhi Daylin dan dinyanyikan oleh Rini Lestari.
Kehadiran lagu ini menjadi warna baru di industri musik daerah Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Tidak hanya mengangkat bahasa dan budaya lokal, “Lelayuk Bunga” juga memuat pesan reflektif tentang hubungan, komitmen, serta keseimbangan dalam menjalani kehidupan berpasangan.
Single terbaru ini resmi diperkenalkan sebagai bagian dari komitmen TA Project dalam mendukung karya musik berbahasa daerah agar tetap hidup dan relevan di tengah arus musik modern.
Lagu Dayak Linoh yang Sarat Makna
“Lelayuk Bunga” secara harfiah menghadirkan metafora yang puitis. Lelayuk bunga diibaratkan sebagai simbol penantian, kesabaran, dan harapan. Lagu ini menggambarkan dinamika hubungan yang kerap diwarnai ego, perasaan ingin dimengerti, hingga proses pendewasaan diri.
Dalam sinopsisnya, lagu ini menyoroti bagaimana ego kerap mendominasi pikiran dan membuat seseorang merasa harus selalu dimengerti. Namun, kondisi tersebut bisa menjadi sumber kebahagiaan maupun justru memicu duka.
Pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya refleksi diri dalam sebuah hubungan. Sebab, hubungan bukan hanya tentang “aku”, melainkan tentang “kita”.
“Hubungan itu senyawa yang menyatukan dua raga agar saling menjaga. Cinta itu seimbang, tidak saling menguji dan tidak saling meninggalkan,” menjadi garis besar pesan yang terkandung dalam lagu ini.
Metafora lain yang digunakan adalah bunga yang menanti hujan. Seperti lelayuk bunga yang membutuhkan hujan untuk kembali segar, demikian pula hubungan yang memerlukan kesabaran, keikhlasan, dan saling memahami agar tetap tumbuh.
Terinspirasi dari Kisah Nyata
Pencipta lagu, Yandhi Daylin, mengungkapkan bahwa “Lelayuk Bunga” diangkat dari kisah nyata. Lagu ini secara khusus dipersembahkan bagi mereka yang sedang menjalin hubungan maupun telah membangun rumah tangga.
Menurut Yandhi, fenomena yang kerap terjadi di kalangan pasangan muda menjadi latar belakang utama lahirnya lagu ini. Tidak sedikit pasangan yang memutuskan menikah, namun ketika diterpa ujian dalam hubungan justru memilih berpisah.
“Lagu ini dibuat dari kisah nyata dan saya dedikasikan untuk mereka yang memiliki pasangan serta yang sedang menjalin hubungan. Banyak pasangan muda yang memutuskan menikah, lalu saat diuji memilih untuk berpisah,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keputusan dalam hidup bukan sekadar pilihan sesaat, melainkan tanggung jawab yang harus dijalani dengan kesadaran penuh.
“Bukan hanya sekadar memilih, tetapi pilihan hidup yang sudah diputuskan harus dipertanggungjawabkan, baik kepada orang tua maupun kepada Sang Pencipta,” ungkap Yandhi.
Dalam proses produksi lagu ini, Yandhi Daylin juga menjelaskan bahwa pemilihan vokalis tidak dilakukan secara sembarangan. Ia memilih Rini Lestari sebagai penyanyi utama setelah melalui pertimbangan panjang.
“Memilih vokal untuk membawakan karya ini bukan sekadar memilih. Ada proses dan perjalanan panjang yang membuat saya akhirnya menjatuhkan pilihan,” katanya.
Rini Lestari dinilai mampu menyampaikan emosi lagu dengan penghayatan yang mendalam. Karakter vokalnya dianggap sesuai dengan nuansa reflektif dan emosional yang ingin disampaikan dalam “Lelayuk Bunga”.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan kekuatan pesan sekaligus memperluas jangkauan pendengar, khususnya generasi muda Dayak Linoh.
Komitmen TA Project dalam Musik Lokal Sintang
Sebagai salah satu rumah produksi musik di Sintang, TA Project terus menunjukkan konsistensinya dalam mendukung karya-karya lokal. Produksi lagu berbahasa Dayak Linoh menjadi langkah nyata dalam melestarikan identitas budaya melalui medium musik.
Di tengah dominasi lagu-lagu berbahasa nasional maupun internasional, kehadiran karya berbahasa daerah memiliki nilai strategis dalam menjaga eksistensi bahasa dan budaya lokal.
TA Project melihat bahwa musik bukan hanya hiburan, melainkan juga sarana edukasi dan refleksi sosial.
Dengan mengangkat tema cinta yang universal namun dibalut bahasa Dayak Linoh, lagu ini diharapkan mampu menjembatani generasi muda dengan akar budayanya.
Pesan Moral: Cinta Butuh Keseimbangan
Secara keseluruhan, “Lelayuk Bunga” bukan sekadar lagu cinta biasa. Lagu ini mengajak pendengar untuk merenungkan kembali makna hubungan yang sehat.
Pesan utamanya sederhana namun mendalam: cinta harus seimbang. Tidak saling menguji, tidak saling meninggalkan, dan tidak didominasi ego.
Jika yang pergi memang akan kembali, maka yang hilang masih bisa dicari. Namun, menjaga dan merawat jauh lebih bijak daripada menyesal di kemudian hari.
Nilai refleksi ini menjadi kekuatan utama lagu, menjadikannya relevan bagi berbagai kalangan usia.
Saksikan Videoklip Fullnya di Channel Youtube TA Project
